DAHSYAAT… INDONESIA BEBAS BUTA AKSARA AL-QUR’AN, ini salah satu caranya…

Metode bisa membaca Al Quran dari nol ‘’Rubaiyat’’ adalah salah satu karunia Allah yang luar biasa.

Bisa dikatakan hadirnya metode cepat dan menyenangkan dari nol ‘’Rubaiyat’’ adalah salah satu jawaban masalah buta huruf Al-Qur’an.

Siapa saja yang ingin bisa membaca Al Quran tidak harus bersusah-susah dan menunggu lama. Empat kali pertemuan bisa membaca Al Quran sangatlah cepat dan memudahkan untuk hitungan para perindu Al Quran.

Keinginan bisa membaca Al Quran walau tertatih-tatih bisa dengan lebih mudah mereka raih. Dengan ini maka harapannya semakin cepat kita bisa memperbanyak umat Islam yang ditolong.

Walau metode ‘’Rubaiyat’’ ini bukan metode terbaik, namun kami selaku pengajar mengakui memang metode ini sangat cerdas. Ustadz Hamim Thohari selaku penemu mampu menyimpulkan inti penguasaan membaca Al Quran itu terletak pada menghafal huruf dalam berbagai posisi dan rangkaian.

Porsi menghafal huruf ini bahkan sampai 80%. Karena bunyi bacaan berupa vokal a i u, an in un, mad, tasdid, sukun, berhenti adalah masuk kategori bumbu dalam mengenal bacaan Al Quran. Metode ini dilengkapi pula dengan dendang lagu sebagai alat perantara untuk mempermudah pembelajaran. Hasilnya memang sangat menakjubkan, para pembelajar dengan begitu cepat bisa membaca Al Quran dengan metode ‘’Rubaiyat’’ ini.

Hal ini pulalah yang membuat kami sebagai murid Ustadz Hamim Thohari begitu bersemangat merangkai mimpi untuk menolong bangsa Indonesia bebas buta huruf Al Quran dengan metode ‘’Rubaiyat’’. Kami bagjab sangat berani menawarkan metode ini semakin luas ke seluruh provinsi dan wilayah di Indonesia. Target metode ini tidak muluk-muluk dengan membuat semua masyarakat mahir membaca Al Quran.

Karena memang masyarakat Indonesia tidak terlalu berorientasi hingga mahir. Bisa membaca walau terbata-bata bahkan sudah memberikan rasa bahagia untuk mereka.

Ditambah lagi dengan keikhlasan Ustadz Hamim dalam mewakafkan metode ini kepada lembaga sosia DSH (Dompet Sejuta Harapan) pada tahun 2012 tanpa mendapat royalti berupa materi apapun.

Jika lembaga sosial melakukan penjualan dari buku tersebut Ustadz tidak mendapatkan keuntungan materi sedikitpun. Cukuplah royalti dari Allah yang Ustadz Hamim dapatkan. Ini semua membuat hati tergerak semakin bergairah meluaskan misi pembebasan buta huruf Al Quran di Nusantara.

Sangat mengharukan bagi kami karena ini adalah anugerah yang luar biasa. Kami menjadi punya kesempatan menyapa masyarakat melalui metode Al Quran Rubaiyat. Alhamdulillah.

Awal mula memperkenalkan metode apik ini dengan membagikan buku dan pelatihan secara cuma-cuma kepada umat di Kabupaten Klaten. Namun ternyata dengan pola ini tidak begitu pesat perkembangannya. Masyarakat penerima manfaat metode sangat lambat perkembangan jumlahnya dari tahun ke tahun.

Tiga tahun lamanya buku yang dicetak 3000 ekslemplar belum 1000 pun bisa terdistribusi. Sampai tiba saatnya di bulan Ramadhan tahun 2015 rekan kami Ryan Martian, seorang konsultan SDM dan trainer nasional menawarkan diri mendistribusikan metode Rubaiyat dengan pola lain. Melalui jalan tersebut, metode ini sangat cepat dikenal dari kota ke kota hingga kami merasa kewalahan.

Dalam jangka waktu kurang dari 4 bulan stok buku sebanyak 2000 ekslemplar habir terdistribusi.

Namun bukan berarti kami tidak memedulikan kalangan menengah ke bawah yang juga membutuhkan bisa membaca Al Quran dengan metode unik ini. Justru dengan pertama kali dikenalkannya metode ini di kalangan menengah ke atas, maka kami bisa menawarkan donasi untuk program ‘’Indonesia Bebas Buta Al Quran’’ untuk kalangan yang tidak mampu membeli buku, DVD, dan alat peraga lainnya.

Salah satunya masyarakat pinggiran dan para penghuni lapas.
Munculah program Donasi untuk 4 Program Indonesia Bebas Buta Aksara Al Quran:

1. TPA Gen-Rumat. Yaitu Taman Pendidikan Al Quran bagi Generasi Penerus Umat untuk anak usia SD dan SMP.

2. Ayo Ngaji. Yaitu Program bimbingan Bisa Quran dari Nol untuk Dewasa Penghuni Lapas, Muallaf dan Masyarakat Pinggiran.

3. Quran Homestay. Yaitu Pondok Quran dengan konsep Pembangunan Karakter berbasis Al Quran dan pembiasaan attitude.

4. LPG (Lembaga Pendidikan Guru Ngaji). Yaitu program Karantina dan Diklat Bagi Udtadz dan Trainer Al Quran.

Donasi yang terhimpun untuk 4 program di atas diharapkan bisa ikut mewujudkan Indonesia Bebas Buta Aksara Al Quran bagi kalangan menengah ke bawah. Semoga Allah meridhoi langkah ini.

Bismillah. Aamiin.

Ustadz Tata Sutarya
Direktur RUBAIYAT INDONESIA

[contact-form-7 id=”128″ title=”Contact form 1″]

One Comment

Silakan balas

Alamat Email Anda tidak akan di publikasikan ke publik Required fields are marked *