Pak Widodo 62 tahun Bisa Baca Quran 4 Pertemuan

Alhamdulillah atas izin Allah beberapa hari menjelang ramadhan 1436 H beliau belajar qur’an dengan metode Rubaiyat setiap pekan. Di pertengahan ramadhan Pak Widodo sudah bisa membaca qur’an walau masih terbata-bata. Walau demikian hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pak Widodo karena seumur-umur tidak bisa membaca qur’an blas. bahkan alif ba ta tsa pun tidak bisa. Pak Widodo tetap meneruskan membaca qur’annya karena beliau tau untuk lancar membaca tidak bisa sekali jadi, harus sering membaca.

Metodenya menyenangkan. Kami dan teman-teman sangat terbantu lebih mudah bisa membaca quran. berharap agar semua masyarakat di kampung kami bisa dibantu membaca quran dengan metode rubaiyat

Subhanallah…
Menakjubkan..

Hanya dengan belajar 4 pertemuan saja  (Pak Widodo) bisa membaca Al Qur’an
Simak sampai selesai & bagikan.

Anda belum tahu bagaimana cara membaca Al Qur’an?
Atau Anda Sibuk? Tidak punya waktu? Sedangkan Usia semakin bertambah…

Metode Rubaiyat Insya Allah bisa menjawab Persoalan Anda.
TERBUKTI. Dengan hanya 4 Jam saja Anda akan membuktikan bahwa membaca Al Qur’an tidaklah sulit.

Dapatkan Buku dan Video Panduannya Sekarang juga!

Kakek 81 Tahun Bisa Baca Quran hanya 4 pertemuan

Mbah Harso kakek usia 81 Tahun bisa membaca Quran dengan hanya 4 kali pertemuan dengan Metode Rubaiyat. Perjuangannya ingin bisa membaca quran selama 81 tahun akhirnya berbuah dengan menakjubkan. Walau mata sudah tidak lagi jelas, fisik sudah tidak lagi kuat, Mbah Harso walau dalam kondisi sakit karena jatuh kepleset tetap bertekad ingin berangkat belajar membaca quran dengan metode Rubaiyat

Ibu Sartini 43 Tahun dengan 4 Pertemuan Bisa baca Quran

Metodenya menyenangkan. Kami dan teman-teman sangat terbantu lebih mudah bisa membaca quran. berharap agar semua masyarakat di kampung kami bisa dibantu membaca quran dengan metode rubaiyat

Subhanallah…
Menakjubkan..

Hanya dengan belajar 4 pertemuan saja Ibu Sartini berusia 43 Tahun  bisa membaca Al Qur’an
Simak sampai selesai & bagikan.

Anda belum tahu bagaimana cara membaca Al Qur’an?
Atau Anda Sibuk? Tidak punya waktu? Sedangkan Usia semakin bertambah…

Metode Rubaiyat Insya Allah bisa menjawab Persoalan Anda.
TERBUKTI. Dengan hanya 4 Jam saja Anda akan membuktikan bahwa membaca Al Qur’an tidaklah sulit.

Dapatkan Buku dan Video Panduannya Sekarang juga!

 

 

Al-Qur’an, Obat Segala Penyakit

rubaiyat-30

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. (Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253)

“dari Al-Qur`an.” Kata min () dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim t.  Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (An-Nur: 55)
Kata min dalam lafadz  tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan At-Thibb An-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138)

“Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.

Penjelasan Tafsir Ayat
Ibnu Katsir t berkata: “Allah I mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya n, yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an-lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukan-nya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.
Adapun orang kafir yang mendzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah baginya  melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah I:

“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44)
Dan Allah I juga berfirman:

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124-125)
Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)
Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di t berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:
“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.
Penyembuhan yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum meliputi  penyem-buhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Al-Qur`an) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah I. Di samping itu, Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 465)

Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani
Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah U untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah U dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk mem-bawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253)
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Zadul Ma’ad:
“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsis-ten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurna-kan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik  penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang mem-bimbing kepada obat dan sebab (kesem-buhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an.
Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah x.Beliau x berkata: “Adalah Rasulullah n terkena sihir1, sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya.
Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah U telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’
(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’
(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”
Aisyah x lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama Al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab Al-Adab, bab Innallaha Ya`muru Bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063). Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), Al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272). Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah U):

Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
Demikian pula yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari t dalam Shahih-nya, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, beliau berkata:
“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’
Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing3. Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah n lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’
Merekapun menghadap Rasulullah n kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau n tertawa.”
Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.”
Dan hadits:

“Al-Qur`an adalah obat.”
Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani t dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.

Membuka Klinik Ruqyah
Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasu-lullah n. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa pe-nyimpangan dalam meruqyah:
“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokus-kan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in.
(Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal ter-larang. Siapa yang mengkhu-suskan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. (Ar-Ruqa Wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh, hal. 20-21)

Catatan Kaki:

1 Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yang menjelaskan bahwa Nabi n pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dalam sebuah kitab yang berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad n pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.
2 Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
3 Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.

 

 

 

Sumber : Disini

Inilah yang Disempurnakan Al-Qur’an dari Kitab Sebelumnya

rubaiyat-29

Mungkin karena seringnya mendengar seorang Muslim berkata bahwa Al-Qur’an adalah penyempurna kitab sebelumnya, kafir Kristen pemuja Yesus sering pula bertanya-tanya, apa sih yang telah disempurnakan Al-Qur’an dari kitab sebelumnya? Sebelum saya jawab pertanyaan ini, ingin saya sampaikan bahwa saya sendiri sampai hari ini belum bisa menemukan dalil yang dengan jelas dan tegas menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah penyempurna kitab-kitab sebelumnya, baik dari Al-Qur’an atau pun dari Hadits. Dalam hubungannya dengan kitab-kitab lainnya, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai batu ujian bagi kitab-kitab lain. Walaupun tidak ditemukan ayat Al-Qur’an atau Hadits yang dengan jelas dan tegas bisa dijadikan dalil bahwa  Al-Qur’an sebagai kitab penyempurna. Namun dengan membandingkan hukum Syariah yang ada dalam Islam dengan hukum Taurat, siapa pun akan mengakui bahwa hukum Syariah dalam Islam memang jauh lebih baik sekaligus lebih sempurna dari pada hukum Taurat. Sebagai bukti lebih sempurnanya Al-Qur’an –atau lebih tepatnya Syariat Islam– dari pada hukum Taurat, ikuti penjelasan saya di bawah ini:

 

Hukum Membunuh Dalam Perang

Al-Qur’an dan Taurat di beberapa ayatnya terdapat perintah berperang untuk memerangi kaum yang ingkar. Bedanya cuma terletak kepada siapa saja yang boleh di bunuh dalam perang. Taurat memperbolehkan membunuh siapa saja yang berada dalam kota yang mereka perangi. Laki-laki, perempuan (kecuali yang masih perawan), dan anak-anak tidak lepas dari tebasan pedang. Mereka juga membunuh hewan-hewan ternak serta membakar rumah-rumah penduduk yang ada di dalamnya. Dalam Taurat dapat kita baca:

15  maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya. 16  Seluruh jarahan harus kaukumpulkan di tengah-tengah lapangan dan harus kaubakar habis kota dengan seluruh jarahan itu sebagai korban bakaran yang lengkap bagi TUHAN, Allahmu. Semuanya itu akan tetap menjadi timbunan puing untuk selamanya dan tidak akan dibangun kembali. (Ulangan 13: 15-16)

21  Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai. (Yosua 6: 21)

Sedangkan dalam Islam membunuh wanita dan anak-anak dalam perang merupakan tindakan yang terlarang, Sangat berkesesuaian dengan perkembangan zaman di mana kita hidup sekarang. sebagaimana hadits di bawah ini:

Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Ibrahim berkata; Aku berkata kepada Abu Usamah bahwa ‘Ubaidullah telah bercerita kepada kalian dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma yang berkata: Telah ditemukan seorang wanita dalam keadaan terbunuh di sebagian peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. (Shahih Bukhari: 2792)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dan Abu Usamah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar dia berkata, “Seorang wanita didapati telah terbunuh di suatu peperangan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.” (Shahih Muslim: 3280)

Hukum Bagi Perempuan Menstruasi

Taurat mengatur masalah perempuan yang sedang menstruasi.  Perempuan yang sedang menstruasi di anggap najis dalam hukum Taurat. Sehingga segala sesuatu yang bersentuhan dengan mereka, segala yang di duduki,  menjadi najis pula. Orang yang terkena oleh sesuatu yang telah tersentuh oleh perempuan yang sedang menstruasi menjadi najis pula. Oleh karena itu, perempuan yang sedang menstruasi dalam adat Yahudi harus dikucilkan dalam sebuah kamar agar tidak membuat najis semua yang di sentuhnya. Sebagaimana ayat-ayat di bawah ini:

19  Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 20  Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. 21  Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 22  Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 23  Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 24  Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga. (Imamat 15:19-24)

Syariat Islam juga mengatur perempuan yang sedang menstruasi, namun tidak sekejam hukum Taurat. Perempuan yang sedang menstruasi menurut syariat Islam tidak di anggap najis dan membuat najis apapun yang disentuhnya. Yang di anggap najis dalam syariat Islam hanya lelehannya saja, bukan perempuan yang sedang menstruasi. Syariat Islam hanya menganggap perempuan yang sedang menstruasi itu berhadats atau tidak suci, sehingga diberi kelonggaran untuk tidak Shalat, Puasa, Menyentuh dan membaca Al-Qur’an, dll. Oleh karena itu, perempuan yang sedang menstruasi bisa tetap beraktifitas seperti biasa, baik di luar atau pun di dalam rumah. Hukum ini jauh lebih baik, lebih sempurna dan lebih bermartabat dari pada hukum Taurat yang menganggap wanita najis.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada saya Zaid dari ‘Iyadh dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila (seorang wanita) sedang mengalami haidh, maka dia tidak shalat dan tidak puasa. Yang demikian itu menunjukkan kurangnya agamanya”. (Shahih Bukhari: 1815)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Yusuf bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Hisyam bin ‘Urwah dari ‘Urwah, bahwa dia ditanya, “Apakah wanita yang sedang haid boleh melayani aku, atau berdekatan denganku sedangkan dia junub?” ‘Urwah lalu menjawab, “Bagiku semua itu mudah, dan setiap dari mereka boleh untuk membantuku, dan seseorang tidak berdosa karena hal itu. ‘Aisyah pernah mengabarkan kepadaku bahwa ia pernah menyisir rambut kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan haid. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di sisi masjid, beliau mendekatkan kepalanya kepada Aisyah yang berada di dalam kamar dan dalam keadaan haid untuk menyisir rambut kepalanya.” (Shahih Bukhari: 287)

Pengampunan Dosa

Manusia tidak dapat lepas dari perbuatan dosa, sekeras apapun manusia mencoba untuk tidak berbuat dosa. Pengampunan dalam hukum Taurat hanya di peroleh dengan cara mengkorbankan hewan sebagai penebus dosa. Sistem pengampunan dan penyucian dalam Taurat adalah hanya dengan darah, Taurat pun mengajarkan bahwa dosa tidak dimaafkan hanya karena perbuatan-perbuatan amal ibadah, melainkan melalui korban darah. Ketentuan Korban penghapusan dosa, kesalahan, pelanggaran keseluruhannya adalah dengan menumpahkan darah. Dalam Kitab Imamat di catat macam-macam korban sebagai berikut : Korban bakaran dengan darah (Imamat 1:1-17), Korban saja dengan tepung dan minyak (Imamat 2:1-16), Korban Kedamaian atau keselamatan dengan darah (Imamat: 3:1-17), Korban Penghapusan Dosa dengan darah (Imamat 4:1-35), Korban Pelanggaran dengan darah (Imamat 5:1-13), (orang miskin boleh memakai tepung dibakar di atas korban “darah” binatang orang lain), Korban penebus salah dengan darah (Imamat 5:14-19; 6:1-7).

Sedangkan pengampunan menurut syariat Islam dapat diperoleh jika seseorang bertaubat dari dosa, menyesal telah berbuat dosa dan memohon ampunan Allah atas dosa-dosa mereka. Tidak perlu lagi sampai harus mengkorbankan hewan sebagai penebus dosa, apalagi sampai harus menjadikan Tuhan sebagai penebus dosa. Pengampunan menurut Syariat Islam ini jauh lebih sempurna, karena lebih dapat menghindarkan manusia dari perbuatan dosa, dari pada pengampunan dosa dalam hukum Taurat yang tidak menuntut adanya penyesalan dan permohonan ampunan.

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, (Al Mu’min: 7)

Hukum Waris Untuk Perempuan

Kafir Kristen pemuja Yesus sering mengolok-olok dengan berkata, bahwa hukum waris dalam Islam tidak adil pada perempuan karena tidak memperoleh bagian yang sama dengan laki-laki. Padahal hukum Taurat sendiri menyatakan bahwa perempuan yang memiliki saudara laki-laki tidak memperoleh apa pun dari harta warisan. Keberadaan anak laki-laki mengalangi anak perempuan mendapatkan harta waris orang tuanya. Barulah ketiadaan anak laki-laki memberikan hak bagi anak perempuan untuk memperoleh harta warisan.

6  Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 7  “Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya. 8  Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. 9  Apabila ia tidak mempunyai anak perempuan, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudaranya yang laki-laki. 10  Dan apabila ia tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudara lelaki ayahnya. 11  Dan apabila ayahnya tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada kerabatnya yang terdekat dari antara kaumnya, supaya dimilikinya.” Itulah yang harus menjadi ketetapan hukum bagi orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (Bilangan 27: 6-11)

Sedangkan menurut Syariat Islam, anak perempuan mendapatkan harta warisan  dengan atau tanpa kehadiran anak laki-laki. Ini yang membedakan Syariat Islam dan hukum Taurat tentang hukum waris. Dari sini terlihat kesempurnaan Syariat Islam di banding dengan hukum Taurat.

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. (An Nisaa’: 11)

 

Itulah yang Al-Qur’an atau Syariat Islam sempurnakan dari hukum Taurat atau Syariat agama terdahulu. Saya hanya menyajikan kepada anda empat hukum dari Syariat Islam yang lebih baik dan lebih sempurna dari hukum Taurat. Sisanya saya serahkan kepada anda untuk mencarinya sendiri. Di sini saya sengaja untuk tidak menyertakan Injil Perjanjian Baru sebagai bahan pembanding, karena Injil Perjanjian Baru bukanlah kitab yang memuat Syariat atau hukum-hukum Tuhan. Bahkan Yesus sendiri berkata bahwa dirinya datang bukan untuk menghapus hukum Taurat. Ajaran kasih adalah untuk menggenapi hukum Taurat, bukan untuk menghapuskan hukum Taurat. Ajaran kasih tidak mampu menjawab permasalahan umat manusia. Itulah sebabnya, ajaran kasih tidak pernah menjadi hukum positif di sebuah negara mana pun di dunia ini, dahulu, sekarang, atau di masa mendatang.

 

 

 

 

Sumber Disini :

Kisah orang masuk islam karena al-quran

rubaiyat-24

 

Seorang wanita Perancis bernama Barbara mendapat hidayah dari Allah swt masuk islam. Hal ini diketahui dari perbincangan Imam besar masjid Kuwait, syaikh Fahd al-Kendari bersamanya. Apa yang diutarakan Barbara membuat banyak orang terharu dan ikut menangis tersedu-sedu. Yah, Barbara, wanita Perancis masuk Islam karena membaca al-Quran.

Bermula dari membaca al-Quran, Barbara merasakan, bahwa seakan-akan dirinya diajak berbicara langsung oleh Allah Rabbul Izzati. Meski pada dasarnya, Barbara adalah tipe wanita yang sulit mengucurkan air mata, namun saat mengisahkan hal itu, dia tak mampu membendung air matanya. Dia berkata kepada sang imam dengan tersedu-sedu:

“Ketika aku membaca al-Quran………. (Terdiam menahan isak tangis) ……. Walaupun sebenarnya aku adalah wanita yang kuat yang jarang menangis, dan aku bisa menahan kesusahan dan membantu orang lain agar mereka kuat dan teguh. Namun ketika aku membaca al-Quran dan mendekat kepada orang lain untuk membantu mereka ketika itu pula aku merasakan bahwasanya aku hanyalah milik Allah. Dan inilah yang aku rasakan saat ini. Dan bahwasanya aku hanyalah hamba Allah Dan itulah perasaan yang sangat kuat yang aku rasakan. Dan terkadang kita adalah orang yang kuat namun kita tidaklah berarti tanpa adanya Allah. Aku sangat jarang menangis ketika berbicara………… (Tiba-tiba terdiam lagi dan menangis). Aku mengetahui bahwasanya Dialah Tuhanku dan aku tidak ada apa-apanya. Kalau bukan karena islam, maka hidupku tidak akan bermakna.. (Diam kembali dan meneteskan air mata).

Kemudian syaikh berkata:

“Subahanallah.. Terkadang ketika aku duduk bersama mereka yang baru masuk islam aku merasakan bahwasanya kita banyak terlalaikan dari agama islam…” (Menangis tersedu-sedu)

Syaikh Fahd yang mewawancarainya menangis tersedu-sedu setelah mendengarkan cerita bagaimana Barbara memeluk agama islam. Dan beliau menangis karena merasakan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap islam. Bukan hanya itu, para kru tv pun ikut menangis dalam kesedihan mereka berdua.

Kesimpulan, jika hanya dengan terjemahan makna dan arti al-Quran mereka mendapatkan hidayah Allah, maka bagaimana dengan kita yang sudah bisa membaca al-Quran? Bisakah kita mempertahankan hidayahNya dengan membaca al-Quran? Semoga Allah membing kita dan kaum muslimin untuk selalu berada diatas hidayahNya. Semoga kisah Barbara, wanita Perancis masuk Islam karena membaca al-Quran, menjadi pelajaran berharga bat kita semua.

Perpindahan keyakinan seseorang tidak lebih dari pilihan pribadi dan gerakan intuisinya ataupun melalui sebuah pengalaman yang pernah terjadi pada orang tersebut.Demikian juga dengan Empat Pastur dan Pendeta ini, mereka memutuskan untuk masuk islam setelah mempelajari Allah SWT, Nabi Muhammad dan Al-Quran.

Menjadi seorang mualaf akan memberi pengaruh perubahan yang sangat besar apda diri mereka, meskipun banyak mendapatkan perlakuan yang sedikit tidak menyenangkan dari komunitas yang tadinya mereka anut.namun semua itu tidak akan merubah niat dan pendirianya untuk percaya kepada sang maha pencipta Allah SWT.

Inilah kisah Empat orang pendeta dan pastur yang akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum akhirnya masuk islam.

rubaiyat-25

 

Dia adalah seorang pastur sekaligus imam katolik di Sri Lanka. Sebagai pembina umat tentunya dia fasih dengan semua ajaran Alkitab, karena setiap kitab suci selalu ia kaji sebagai pedoman hidup sebagai seorang pengitu ajaran Yesus Kristus.

Namun setelah dia mempelajari dan menerjemahkan kedalam bahasa sinhala dia menemukan beberapa kaeraguan yang sangat luar biasa.Dia memaparkan dalam Esaiah 9:12 disebutkan “Sebuah buku suci akan diberikan pada dia yang tidak pernah belajar sebelumnya, tidak pernah berucap, tidak pernah bisa membaca, dan dia mengatakan saya tak mampu membaca”.

Tentunya dalam ayat diatas mengacu pada Nabi Muhammad SAW , beliau adalah satu-satunya utusan tuhan dan sebagai Nabi Terakhir yang tidak bisa membaca dan menulis.Selain itu ada juga ayat yang berlawanan dengan kepercayaan umat katolik dan kristen yaitu menganggap Yesus adalah manusia biasa.

Setelah menjadi seorang muslim George Antony mengubah namanya menjadi Abdurrahman dan ia sekarang bekerja sebagai relawan di Kuwait.

rubaiyat-26

Dia adalah seorang profesor sekaligus pastor dan penginjil, dia juga sebagai pendiri gereja misionaris. Dia dikenal sebagai orang yang sangat cerdas dan tercatat sebagai penganut aliran radikal fundamentalis.

Dia mulai mengenal islam setelah bertemu dengan salah satu orang amerika yang baru saja bekerja di Arab Saudi dan telah menjadi seorang muslim. Mulai saat itu dia bertanya-tanya tentang Islam sebelum akhirnya wanita tersebut dibawa ke Islamic Center.

Sekian lama belajar soal Katolik Watson dididik mengenal Islam sebagai agama pengrusak dan kitab sucinya Al-Quran menyebarkan ajaran sesat atau setan. Namun hal itu tidak didapatinya saat berkunjung ke Islamic Center. Dia diterima dengan baik, tanpa intimidasi.
Ketertarikan utamanya yakni pada keilahian Allah SWT. Tuhan yang satu. Dia juga menemukan fakta konsep trinitas tidak ada dalam Alkitab berbahasa Ibrani asli. Apalagi Alkitab dalam Markus 12:29 berbunyi “Tuhan Allah Anda yakni Tuhan yang Maha Esa dan Anda tidak akan memiliki Allah lain selain Aku”.

Watson akhirnya menjadi seorang muslim justru setelah mengkaji Alkitab Ibrani.

rubaiyat-27

David merupakan seorang pastor Katolik yang masuk muslim dan resmi mengganti namanya menjadi Abdul Ahad Daud. Benjamin lahir pada tahun 1867 dan meninggal pada tahun 1940 dan dialah seroang penulis buku paling laris, Muhammad dalam Alkitab.

Dia menemukan fakta nama Yesus dalam bahasa Periqlytos berarti Ahmad, nama lain Muhammad. Setelah melakukan penelitian, bahkan Kristus sendiri tidak pernah menuliskan mengenai konsep Trinitas. Konsep itu hanya eksis dua abad setelah kematian Yesus.

rubaiyat-28

Sebuah penggalan ayat dari surat Al Maidah 83 yang berbunyi “Ya Allah, kemi telah beriman. Catatlah kami sebagai orang-orang yang bersaksi atas kebenaran Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW. Menjadi sebuah awal ketertarikan Taufik untuk menjadi seorang muslim.

Dia akhirnya memutuskan berhenti menjadi pastur vantikan dan memulai misi Kristen di Mesir. Di sini dia banyak berinteraksi pada orang muslim dan memulai untuk belajar islam. Menurutnya warga kairo sangat lembut dan memeggang ajaran teguh agama mereka.

Disini taufik mulai bingung karena melihat kanyataan di berbagai media barat yang menggambarkan Islam sebagai soal bom bunuh diri dan pemberontak. Namun akhirnya disini taufik menemukan indahnya menjadi seorang muslim

Salah satu peristiwa paling membuatnya terkejut adalah ketika mendengar adzan magrib, ribuan toko tutup dan seluruh orang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk beribadah. Akhirnya dia mempelajari semua agama di dunia termasuk Islam hingga akhirnya dia menemukan sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi “Dan saat mereka diperdengarkan wahyu dari Allah diterima Muhammad SAW, kamu akan melihat mata mereka menggenang sebab mengakui kebenaran Allah SWT”.

Taufik tertegun mendengarnya. Tak terasa air matanya keluar dan dia berusaha menyembunyikan itu dari siswanya. Saat itu juga dia menerima Islam sebagai agamanya.

 

 

 

Sumber Disini :

Pertolongan Alquran di Alam Kubur

rubaiyat-23

 

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar  dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata,” Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahuakbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadis ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Alquran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada  pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Alquran akan menuntut kita. Allah… terimalah bacaan Alquran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.

Banyak riwaya yang menerangkan bahwa Alquran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafaat Alquran tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Alquran. Salah satu cara yang sangat baik dalam “memaksa” kita untuk dekat dengan Alquran adalah dengan menghafalkannya.

Dengan berniat menghafal Alquran hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Alquran. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa “bersalah” jika tidak memegang Al-Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.

Pada akhirnya kita mau tidak mau “dipaksa” untuk mendekat kepada Alquran. Dapat dikatakan dengan menghafalkan Alquran kita telah mengikatkan diri dengan Al-Qur’an. Sesibuk apapun kita, kita dipaksa untuk selalu dekat Alquran. Dan itu sungguh bukan termasuk “pemaksaan” yang aniaya. Melainkan pemaksaan yang penuh kebaikan.

Semoga hadis di atas menjadi cambuk bagi kita ketika rasa malas menerpa kita. Semoga Allah dengan kemuliaanNya menjadikan Alquran sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.

Semoga Alquran menjadi “teman” bagi kita ketika tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amin. Mari menghafal Alquran.

 

 

 

 

Sumber Disini :

Pentingnya Menghafal dan Memahami Al Quran

rubaiyat-22

Al Quran diturunkan kepada Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah dan beliaupun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah (2) : 97.

qs-2-97.gif

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering, batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian Al Qur;an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami dengan menghafal. Bukan dengan sekedar membaca.

Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“ ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya Abu Bakarpun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.

Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“. Tapi akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun disimpan di rumah Hafsah.

Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Jadi pada saat itu para shahabat, tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah Mushaf yang sangat sedikit.

Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.

Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.

Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu menghafal ? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ? Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa“ (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan“ untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.

Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan mengulang-ulangnya.

Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca „buta“ Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari firman-firmanNya.

Bila kita menghafal dan mentadaburi Al Quran maka Allah akan mengajarkan kepada kita pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan ilham. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8-10:

qs-91-8-10.gif“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“

Ilham ini dapat dirasakan dengan dalam hati kita. Bukankah kita pernah bingung tentang suatu masalah, kemudian pada suatu saat kita, „cling“ mememukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Itulah ilham.

Atau ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana-mana amal yang haq dan mana-man yang bathil. Sebagai misal ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan terasa tidak enak, tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang dengan bisikan-bisikan syaithan yang membujuk-bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan. Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan kita mantap mengetahui yang haq dan yang bathil. Seperti disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Anfaal ayat 29:

qs-8-29.gif

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Al Quran juga sebuah petunjuk/pedoman hidup bagi kita kaum muslimin :

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
(QS Al Baqarah : 2)

Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ? Dan banyak diantara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.

Bayangkan apabila kita akan pergi ke puncak Gunung Semeru. Sebelum pergi kita dibekali dengan peta, rambu-rambu dan petunjuk-petunjuk oleh seorang pendaki gunung profesional. Tetapi kita tidak memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Apakah kita dijamin akan sampai di puncak gunung semeru dengan selamat ? Kita mungkin lebih senang bertanya dengan penduduk setempat. Bila kita bertemu dengan penduduk yang sangat kenal gunung semeru mungkin kita akan sampai dengan selamat. Tetapi bila orang kita tanya juga kurang faham jalan ke puncak gunung, akankah kita sampai ke puncak dengan selamat atau mungkin kita bisa tersesat ? Padahal bila kita memahami, petunjuk, peta dan juga bertanya maka kita akan mendapat jalan pintas untuk sampai ke puncak gunung.

Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, bahasa Inggris diajarkan sejak SD. Maka kita lihat ketika lulus SMA para mahasiswa sudah bisa belajat dari diktat berbahas Inggris. Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab (sebagai media inti pemahaman Al Quran) maka ketika berumur 20-25 seorang muslim sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, memahami Al Quran bukan fardhu kifayah yang dibebankan kepada ulama, kiai atau ustadz. Tapi seperti dicontohkan oleh para sahabat, membaca, menghafal, memahami dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban indivial setiap kaum muslimin. Bila secara individu seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.

Demikianlah renungan kita tentang Al Quran. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya.

Wallahu alam bi shawab

 

 

 

 

Sumber Disini :

Hikmah dan Keutamaan Membaca Kitab Suci Al-Qur’an

Blog Khusus Doa – Al-Qur’an merupakan kitab suci agama islam dan sekaligus wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui (perantara) Malaikat Jibril untuk dijadikan pegangan dan/atau pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, yang akan menuntun kita semua kearah yang lebih baik untuk mendapatkan rahmat, syafa’at serta kebaikan dari Allah SWT. Al-Qur’an juga sebagai salah satu Rukun Iman, yaitu seorang muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penghapus hukum dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.
Baranag siapa yang berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan baik pasti akan mendapatkan syafa’at serta pahala yang besar dan balasan yang berlipat-lipat. Orang yang membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, yakni dari Abi Umamah ra. Ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘ Bacalah olehmu Alquran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya)”
rubaiyat-18
Masih banyak lagi hikmah dan keutamaan membaca Al-Qur’an yang sangat luar biasa dan menakjubkan bagi siapa saja yang membacanya. Untuk lebih jelasnya, silakan simak ulasan berikut ini, sebagaimana kami lansir dari laman Republika.co.id
Keutamaan dan Hikmah Membaca Kitab Suci Al-Qur’an
  1. Menjadi perniagaan yang tidak akan merugi.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi.” (QS al-Fathir: 29).

  • Membaca Al-Qur’an Merupakan Amal yang Terbaik.
    Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” ( HR Bukhari).
  • Mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
    Rasulullah bersabda: “Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).
  • Mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang).
    Rasulullah bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Alquran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya).” (HR Muslim).
  • Mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT.
    Rasulullah bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: “Barang siapa yang sibuk dengan Alquran dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. Keutamaan kalamullah (Alquran) atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya.” (HR Tirmidzi)
  • Seperti buah utrujah yang wangi dan lezat.
    Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit.” (HR Bukhari dan Muslim).
  • Mendapat kebaikan berlipat ganda.
    Rasulullah bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).
  • Memberikan syafaat divhari kiamat kelak.
    Rasulullah bersabda: ” Bacalah Alquran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR Muslim).
Itulah beberapa Hikmah, Manfaat dan Keutamaan Membaca Al-Qur’an yang sangat menakjubkan dan luar biasa. Dengan memahami beberapa keutamaan membaca Alquran seperti yang sudah dipaparkan diatas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam membaca Alquran. Dan semoga Allah SWT merahmati kita semua dengan wasilah Alquran yang kita baca.
Sumber Disini :

Dari Penggemar Heavy Metal Menjadi Pencinta Alquran

rubaiyat-16

 

Yahiye Adam Godhan adalah anak seorang tukang daging yang banyak menyangsikan dan menentang dogma Kristen. Ia juga merasa heran melihat teman-temannya beribadah kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Di kemudian hari, ketika ia mulai mengenal Islam dan Alquran, ia mendapatkan alasan yang kuat mengapa harus menjadi seorang muslim.

Yahiye menceritakan kisah hidupnya sejak remaja hingga menemukan Islam sebagai jalan hidup yang hakiki. Ia bertutur:

Saat berusia 17 tahun, aku memiliki pengalaman yang sedikit berbeda dengan pengalaman-pengalaman remaja Amerika pada umumnya. Aku dibesarkan di sebuah peternakan kambing di tengah pedesaan, di Western Riverside County, California. Di peternakan keluarga itu, peternakan kami mampu menghasilkan susu, keju, dan daging dari 150 sampai 200 hewan yang kami miliki. Ayahku adalah seorang tukang daging yang menyembelih hewan-hewan pedagingnya dengan cara islami. Kemudian ia memasoknya ke toko makanan Islam yang terletak beberapa blok dari Islamic Center di pusat kota Los Angeles.

Ayahku dibesarkan sebagai seorang agnotis atau ateis, kemudian menjadi penganut Kristen karena tak sengaja mempelajari Injil yang ia temukan tertinggal di pantai. Ayahku punya beberapa teman yang beragama Islam, tapi saat ini, semua teman-teman muslimnya sudah pindah dari California. Sementara ibuku, sejak kecil dididik sebagai seorang Katolik namun ia memiliki prinsip yang sama dengan ayahku, sama-sama tidak mengimani konsep trinitas.

Aku dan saudara-saudaraku mengenyam pendidikan home schooling. Perlu diketahui, kebanyakan keluarga yang mengambil home schooling adalah orang-orang Kristen. Selama delapan tahun lebih, keluargaku berinteraksi dengan komunitas Kristen di home schooling ini. Namun, justru hal itulah yang mulai membuka mataku.

Aku mulai menemukan hal-hal yang kuanggap aneh, meskipun Kristen menyatakan bahwa mereka penganut trinitas, kenyataannya mereka hanya menujukan doa-doa mereka kepada Yesus. Menurutku hal itu benar-benar mengherankan. Orang-orang Kristen menganggap hal itu sebagai syarat untuk memperoleh keselamatan. Sejak saat itu, secara bertahap aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjadi seorang penganut Kristen.

Selanjutnya, aku sangat terobsesi dengan aliran pemuja setan yang ada pada musik heavy metal. Dan tentu saja keluargaku sangat menentang keras hobi baruku ini. Mulailah kuhabiskan hari-hariku untuk terus mendalami musik ini; aku mulai menjalani hidup kotor dan jorok serta menjauhi kebersihan, kamarku kubiarkan begitu sangat berantakan dan kacau, dan hubungnku dengan orang tua mulai menegang, walaupun aku juga sering meminta maaf kepada mereka.

Di tahun berikutnya, aku mulai mendengar khotbah berapi-api di radio dari Kristen Apokaliptik, menceritakan tentang ancaman Islam. Namun peringatan mereka malah menimbulkan rasa ketertarikan di hatiku untuk mengetahui Islam lebih jauh. Aku anggap hal ini sebagai salah satu kegiatan untuk mengisi kekosongan.

Titik balik dari kesia-siaan yang aku lakukan adalah ketika pindah ke Santa Ana, California, tinggal bersama nenekku. Di California, aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi apa mau dikata, mencari pekerjaan itu sangat mudah diucapkan namun sulit untuk dilalui. Dan saat itulah aku mulai menemukan tempat-tempat diskusi Islam.

Disana, aku menemukan bahwa keyakinan dan praktik agama ini benar-benar sesuai dengan fitrah dan logika manusia. Islam mengajarkan bahwa Allah bukanlah bagian dari manusia, akan tetapi Dia sebagai Dzat yang terpisah dari manusia, esa tak berbilang. Islam memiliki kitab suci yang sangat mudah untuk dipahami sekalipun oleh orang awam. Tidak ada kepausan yang dianggap sempurna dalam hal penafsiran. Setiap muslim memiliki kebebasan menafsirkan Alquran dengan kesadaran akan kadar ilmu pengetahuan yang mereka miliki.

Muslim tidak meyakini bahwa semua orang ditakdirkan masuk neraka. Sehingga Tuhan tidak perlu mengorbankan dirinya disiksa di tiang salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Muslim meyakini bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun, kecuali bagi mereka yang ingkar dan memang tidak mau bertaubat kepada-Nya. Muslim tidak percaya akan adanya ras terpilih, semua sama di mata Allah yang membedakannya hanyalah takwa. Dan masih banyak hal-hal lain.

Setelah mulai membaca terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, aku semakin yakin akan kebenaran dan keaslian ajaran Allah yang terkandung dalam 114 surat Alquran. Setelah bertahun-tahun bergaul dengan orang-orang Islam, aku tahu benar bahwa mereka bukanlah orang-orang yang haus darah, teroris, dan barbar, seperti yang digambarkan oleh media dan para aktivis Injil.

Bekal inilah yang membuatku semakin tertarik untuk mengetahui dan meneliti Islam lebih jauh, lebih dari yang orang lain ketahui. Karena aku belum bisa memutuskan dan memantabkan hati kalau Islam adalah benar-benar takdirku.

 

rubaiyat-17

 

Sampai akhirnya, pencarian tersebut menemui titik temu. Menurutku, ini adalah proses yang sangat alami tanpa ada paksaan. Pada November 1995, aku mengunjungi komunitas Islam di California, Islamic Society of Orange County, di Garden Grove. Aku katakan kepada salah seorang saudara muslim yang mengurus perpustakaan di sana, bahwa aku ingin memeluk Islam. Lalu dia memberiku beberapa bahan bacaan, dan kemudian aku mengucapkan syahadat di dalam masjid yang penuh sesak.

Minggu berikutnya, kuhabiskan untuk mempelajari tata cara shalat dan merenungkan kebesaran Allah. Menjadi seorang muslim benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa!

Subhana rabbiyal ‘aziim!

Sumber : Di

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!