Al-quran Pedoman Hidup

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Kita sudah mengetahui bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kita hari ini sama seperti Al-Qur’an yang dibaca oleh para sahabat dahulu. Sungguh Al-Qur’an telah menjadikan mereka sebuah generasi yang istimewa, namun :

  1. Adakah perubahan itu berlaku pada diri kita?
  2. Mengapa Al-Qur’an tidak dapat mengulangi kembali apa yang dilakukannya terhadap generasi terdahulu?
  3. Adakah sudah tidak wujud lagi orang-orang yang seperti mereka?

Sebenarnya, itulah yang sepatutnya berlaku kerana mu’jizat Al-Qur’an kekal abadi hingga ke hari kiamat, jadi kalau begitu maka kesalahan itu ada pada diri kita.

Di zaman ini kita dapat menemui Al-Qur’an di setiap rumah seorang muslim dan dapat mendengarkan siaran-siaran yang bermanfaat tentang kajian Al-Qur’an dan keislaman di berbagai saluran television dan radio. Bahkan di saat ini terdapat puluhan ribu atau ratusan ribu orang yang hafal Al-Qur’an yang mana belum pernah berlaku kepada generasi pertama umat ini (generasi sahabat), namun mengapa ummat ini tidak mendapatkan apa yang di dapatkan oleh para pendahulu mereka, padahal begitu besar perhatian kita terhadap Al-Qur’an?

Mengapa ini berlaku?

Hakikatnya kerana kita tidak memenuhi syarat-syarat yang kita perlukan agar Al-Qur’an menancapkan mu’jizatnya pada diri kita dan agar ia mengubah diri kita.

Perhatian kita terhadap Al-Qur’an hanya sebatas perhatian terhadap lafaz-lafaznya sahaja di mana perkataan “Mengajarkan Al-Qur’an” juga disempitkan maknanya dengan mengajarkan huruf-huruf dan cara pengucapan yang benar tanpa mengajarkan kandungannya.

Begitu juga yang menjadi pendorong utama dalam membacanya disebabkan ingin memperolehi pahala yang banyak tanpa memperhatikan makna-makna di sebalik ayat-ayat itu. Makna-makna yang jika seseorang merenungkannya akan membuatkannya merasa lega dari kepenatan dunia saat ia membaca Al-Qur’an.

Sungguh aneh keadaan diri kita ketika merasa begitu senang melihat betapa ramai dari kita yang membaca tanpa mengetahui kandungannya bahkan sudah menjadi kebiasaan kita, mencari siaran-siaran Al-Qur’an kemudian membiarkan qari’ melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan meninggalkannya bersama dinding, sedangkan kita disibukkan kembali oleh pekerjaan kita.

 

AKIBAT KELALAIAN TERHADAP AL-QUR’AN

 

Cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur’an menyebabkan kita tidak mampu memetik manfaat yang sebenarnya dari Al-Qur’an, maka apakah akibat yang akan berlaku?

Ketika kita tidak mampu mendapatkan cahaya Al-Qur’an, maka kemu’jizatan Al-Qur’an pun akan berhenti. Mu’jizat berupa perubahan yang nyata bagi jiwa-jiwa manusia, disebabkan semakin jauhnya jurang pemisah antara kewajiban yang mesti kita lakukan dan kelalaian diri kita antara ucapan dan perbuatan, maka pada ketika itu berubah pula tujuan hidup kita dan bertambahlah kecintaan dan kebergantungan kita terhadap dunia. Akhirnya berlakulah sunnatullah yang terjadi ke atas umat-umat sebelum kita.

“Yang demikian (siksaan) itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum , hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri ,dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Anfal : 53)

Begitu pula berlakulah apa yang diramalkan oleh Rasulullah saw dalam suatu haditsnya :

“Kamu akan dikerumuni oleh berbagai golongan sebagaimana makanan dikerumuni oleh orang-orang yang kelaparan, salah seorang di antara sahabat bertanya, “Apakah waktu itu kita sedikit wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bahkan jumlah kamu banyak, tapi kamu bagai buih di lautan, kerana Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kamu dan menanamkan pada hati kamu penyakit al-wahn.” “Wahai Rasulullah apa itu al-wahn?” “Cinta dunia dan takut akan kematian.”

 

KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN

 

Dari sini kita telah mengetahui dengan jelas bahwa sudah sampai masanya untuk kembali kepada Al-Qur’an, maka :

  1. Sambutlah jamuannya.
  2. Arahkanlah wajah kita kepadanya.
  3. Tinggalkanlah kesibukan diri kita untuknya.

Sekaranglah masanya untuk memulai perubahan baru dalam diri kita agar berlaku janji Allah, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’ad : 11)

Ketahuilah bahwa tidak mungkin memulakan perubahan selain melalui pintu Al-Qur’an dan permulaan selain Al-Qur’an tidak akan membuahkan hasil yang kita inginkan.

Kenapa demikian?

Ini adalah kerana Al-Qur’an adalah ubat yang diturunkan oleh Allah untuk mengubati penyakit-penyakit yang ada dalam diri manusia dan mengembalikan kesihatannya dalam hatinya.

Allah swt berfirman :

 

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus : 57)

BAGAIMANA KITA MENGAMBIL MANFAAT DARI AL-QUR’AN?

 

Tidak ragu lagi, barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu merupakan perkataan Allah yang ditujukan untuk dirinya, yang setiap lembarannya mengandungi kunci-kunci keselamatan dunia dan akhirat, maka ia dapat mengubah dirinya dalam keadaan yang bagaimanapun dengan izin Allah swt dan tidak ragu lagi bahwa ia tidak memerlukan seseorang yang menunjukkan wasilah-wasilah untuk membantunya mengambil manfaat dari Al-Qur’an kerana ia dengan sendirinya telah bersedia untuk menerima arahan-arahan dari Al-Qur’an yang akan mengubah dirinya.

Namun, jika kita merasa begitu sukar pada permulaannya untuk melakukan perkara yang demikian, disebabkan kebiasaan kita berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan cara yang salah yang menjadi pembatas antara kita dan Al-Qur’an atau yang sentiasa menghalangi kita mengambil manfaat yang sebenarnya dari Al-Qur’an, maka untuk kembali kepada Al-Qur’an, kita memerlukan wasilah-wasilah dan cara-cara yang praktikal yang akan membantu kita untuk :

  1. Memusingkan wajah kita kepada Al-Qur’an.
  2. Menerima jamuan pestanya.
  3. Masuk ke alam dan projek Al-Qur’an beserta tahapannya.

Wasilah-wasilah yang penting untuk membantu merealisasikan perkara ini, di antaranya :

  1. Menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.
  2. Menyiapkan keadaan yang sesuai.
  3. Membaca secara perlahan.
  4. Teliti dalam membaca.
  5. Bertindakbalas terhadap ayat-ayat yang kita baca.
  6. Menjadikan makna sebagai tujuan.
  7. Mengulang-ulangi ayat-ayat yang menyentuh hati.

PERTAMA : MENYIBUKKAN DIRI DENGAN AL-QUR’AN

Etinya, menjadikannya sebagai satu-satunya yang menyibukkan kita, pusat perhatian dan keutamaan kita dan untuk menjadikannya seperti itu maka mestilah dengan membiasakan untuk membacanya setiap hari walau dalam keadaan yang bagaimana sekalipun. Dengan kata lain, kita kena banyak meluangkan waktu untuk Al-Qur’an.

Disebabkan perubahan yang dilakukan oleh Al-Qur’an adalah perubahan yang lambat, tenang dan bertahap maka untuk dapat memetik hasilnya diperlukan penerusan dalam berinteraksi dengannya dan tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa membacanya.

Ketahuilah, sebanyak mana kita memberikan waktu untuk Al-Qur’an maka sebanyak itu pulalah Al-Qur’an memberikan cahayanya kepada kita. Barangsiapa yang mampu berinteraksi dengannya berulang kali dalam satu hari maka ia telah meraih tongkat kemenangan.

 

KEDUA : MENYIAPKAN KEADAAN YANG SESUAI

 

Supaya Al-Qur’an melakukan perubahan pada diri kita maka kita mesti menyiapkan keadaan  yang tepat untuk menyambutnya, di antaranya mencari tempat sepi yang jauh dari kebisingan sebagai tempat kita bertemu dengannya.

Tempat yang tenang akan membantu kita untuk :

  1. Lebih teliti dalam membaca.
  2. Memahami dengan baik.
  3. Cepat untuk bertindakbalas terhadap bacaan.
  4. Mampu untuk kita menzahirkan perasaan-perasaan kita ketika kita merasakan gejolak-gejolak jiwa dengan tangisan atau doa.

Di samping itu, kita juga mesti menentukan agar pertemuan kita dengan Al-Qur’an dilakukan pada waktu-waktu yang produktif bukan pada waktu keletihan, mengantuk dan sebagainya. Begitu juga dianjurkan untuk berwudhu’ dan bersiwak terlebih dahulu.

 

KETIGA : MEMBACA SECARA PERLAHAN

 

Ketika kita membaca Al-Qur’an maka bacalah ia secara perlahan, tenang dan tidak tergesa-gesa.

Sikap ini menjaga kita dalam pengucapan perkataan yang benar dan agar dapat melantunkan ayat-ayat Allah swt dengan indah dan sesuai dengan perintah Allah swt :

“Dan bacalah AlQur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS Al Muzzammil : 4)

Janganlah perhatian kita bertumpu kepada akhir surah yang kita baca. Tidaklah dianjurkan bagi kita untuk menamatkan Al-Qur’an lebih dari satu kali dalam satu bulan, misalnya dalam bulan Ramadhan, yang justeru akan menyebabkan kita tergesa-gesa dalam membacanya.

Bukankah sudah berkali-kali kita menamatkan Al-Qur’an dalam bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, namun apa yang kita dapatkan?

Adakah perubahan pada diri kita?

Marilah kita saling berlumba untuk memetik buah-buah keimanan yang terkandung dalam Al-Qur’an bukan dalam seberapa banyak kita habiskan lembaran-lembaran Al-Qur’an.

 

KEEMPAT : TELITI DALAM MEMBACA

 

Bacalah Al-Qur’an sebagaimana kita membaca buku lain. Jika kita membaca sebuah buku atau majalah atau suratkhabar biasanya kita berusaha memahami apa yang kita baca dan apabila timbul rasa jemu, kita akan kembali membolak-balik lembaran yang sudah kita baca dan mengulangi beberapa makna yang tidak kita fahami, yang demikian itu disebabkan kerana kita ingin memahami apa isi bacaan tersebut.

Begitulah pula seharusnya kita membaca Al-Qur’an, kita membacanya dengan fikiran yang jernih. Apabila sampai masanya kita merasa bosan, kita mengulang-ulang kembali ayat-ayat yang terakam dalam fikiran kita.

Pertama kali membacanya kita mungkin akan merasa sukar, disebabkan kita sudah terbiasa membaca Al-Qur’an seakan-akan ia mantera-mantera yang tidak bermakna.

Hanya dengan kesungguhan dan terus mencuba, kita akan terbiasa untuk membaca dengan teliti tanpa merasa jemu.

 

KELIMA : BERTINDAKBALAS TERHADAP APA YANG KITA BACA

 

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Ia ditujukan kepada kita dan orang-orang selain kita tanpa terkecuali.

Oleh kerana itu, dalam Al-Qur’an kita akan menemui :

  1. Pertanyaan dan jawaban.
  2. Janji dan ancaman.
  3. Perintah dan larangan.

Maka kita mesti bertindakbalas terhadap perkara-perkara yang kita baca dalam Al-Qur’an misalnya :

  1. Menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
  2. Melaksanakan perintahnya dengan bertasbih.
  3. Memuji Allah.
  4. Beristighfar kepada Allah.
  5. Sujud ketika kita mendapatkan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk itu.
  6. Mengucapkan amin setiap melalui ayat-ayat yang berisi doa.
  7. Meminta perlindungan kepada Allah dari panasnya api neraka ketika membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan neraka.
  8. Memohon syurga ketika membaca ayat-ayat yang bercerita tentang syurga.

Demikianlah Rasulullah saw memberikan petunjuk kepada kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an dan sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat yang mulia. Begitu juga melakukan solat malam dengan membacanya dapat menambah kekhusyu’an, teliti dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an tanpa merasa jemu.

 

KEENAM : FAHAMILAH MAKNANYA SECARA UMUM

 

Sebahagian di antara kita ketika memulai untuk mentadabur Al-Qur’an, dia berusaha untuk memahami Al-Qur’an perkataan demi perkataan yang membuatnya merasa kesulitan untuk melakukannya, terputus-putus dalam membacanya dan akhirnya ia akan merasa bosan dan kembali membaca Al-Qur’an tanpa tadabbur dan kefahaman.

Namun adakah cara lain yang membuatkan kita dapat mentadabur Al-Qur’an tanpa perlu terputus-putus dalam membacanya?

Satu-satunya cara yang mudah untuk mempraktikkan kedua perkara ini dalam waktu yang bersamaan adalah dengan memahami makna secara umum setiap ayat.

Ketika kita menemui beberapa perkataan yang sukar untuk di fahami, maka cukuplah bagi kita untuk meletakkannya sesuai dengan makna yang kita dapatkan dari makna ayat tersebut secara umum sepertimana ketika kita membaca tulisan bahasa asing lainnya, misalnya Bahasa Inggeris, ketika kita tidak tahu erti beberapa perkataan, maka boleh difahami dari makna kalimah secara umum.

Begitulah Rasulullah saw mengajarkan kepada kita dalam sabdanya :

“Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mendustakan antara satu bahagian dengan bahagian lainnya, tetapi membenarkan antara satu bahagian dan bahagian lainnya, maka apa-apa yang kau ketahui darinya maka amalkanlah, dan apa-apa yang tidak kau ketahui maka tanyakanlah kepada orang yang tahu.”

 

Dengan cara seperti ini tadabur Al-Qur’an bukanlah suatu perkara yang sukar bagi setiap orang.

Namun ianya bukanlah bererti kita tidak perlu membaca kitab-kitab tafsir dan mengetahui makna setiap perkataan kerana tafsir mempunyai peranan yang sangat besar untuk menjaga kefahaman yang benar dan merupakan pokok untuk mengetahui hukum-hukum syar’ie dan jangan sampai kita mengambil kesimpulan sendiri dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Sejarah umat Islam telah menyaksikan berbagai penyimpangan yang berlaku disebabkan oleh pengambilan hukum berdasarkan penafsiran peribadi tanpa memiliki keahlian di dalamnya, seperti kaum khawarij dan aliran sesat lainnya.

Dengan peranan tafsir yang begitu besar maka kita perlu mempunyai waktu khusus untuk itu, selain waktu tilawah, kerana kita tidak ingin selesainya tilawah Al-Qur’an kita hanya dengan kefahamannya sahaja yang bertambah tetapi juga mesti disertai dengan hati yang hidup.

Ini memerlukan pertemuan langsung dengan Al-Qur’an, mengizinkan pengaruh-pengaruh kuat yang meresap dalam jiwa kita yang terus menghunjam saat kita meneruskan bacaan dan mengizinkannya masuk ke dalam jiwa kita dengan pengaruhnya yang kuat dan bertindakbalas dengan ayat-ayat yang kita baca.

 

KETUJUH : MENGULANG-ULANG AYAT YANG MENYENTUH HATI

 

Ini adalah wasilah yang paling penting yang membantu mempercepatkan dalam memetik manfaat dari Al-Qur’an.

Berbagai wasilah sebelumnya walaupun sama pentingnya tetapi ia ditujukan kepada akal fikiran yang menjadi tempat bagi ilmu dan pengetahuan sedangkan keimanan bersumber pada hati.

Hati adalah tempat berkumpulnya perasaan dan emosi dalam jiwa manusia dan sebanyak kadar keimanannya itulah seseorang akan tergerak melakukan amal soleh.

Ertinya, iman adalah perasaan dan emosi. Ada “gejolak” saat jiwa kita merasakan adanya tindakbalas semula dan luapan emosi keimanan yang kita rasakan dalam doa-doa kita atau dalam solat kita atau ketika kita membaca Al-Qur’an menyebabkan bertambahnya iman dalam hati kita.

 

BACALAH DAN IMANPUN BERTAMBAH

 

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan apabila di bacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka(kerananya) dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.”(QS Al-Anfal : 2)

Al-Qur’an adalah wasilah utama dalam bertambahnya keimanan pada diri seseorang. Disebabkan Al-Qur’an mengandungi pelajaran-pelajaran yang sangat berharga yang menggugah perasaan dan menerangi jiwa, maka berlakulah tindakbalas semula dengan fikiran dan perasaan.

Benar…pada permulaannya sangat jarang kita menemui “gejolak” luapan emosi keimanan tadi, akan tetapi dengan selalunya kita membaca Al-Qur’an sesuai dengan wasilah-wasilah sebelumnya, “gejolak” itu akan datang lebih kerap lagi setiap kali kita membaca Al-Qur’an.

 

Apa yang kita lakukan ketika “luapan keimanan” itu datang?

 

Kesempatan yang datang itu mesti kita petik dengan baik, berusahalah agar cahaya iman dapat masuk ke dalam jiwa kita sebanyak-banyaknya dalam “luapan keimanan” itu dan perkara itu boleh kita lakukan dengan mengulang-ulang ayat yang menggugah perasaan kita, jangan sampai merasa bosan untuk melakukannya selagi jiwa kita masih bertindakabalas dan inilah yang dilakukan oleh para shahabat dan salafus soleh ridhwanullahi alaihim.

Diriwayatkan dari Ubadah bin Hamzah ia berkata, “Suatu hari saya menemui Asma’ solat dan membaca ayat :

Maka Allah memberi kurnia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (QS At-Thur : 27)

maka saya pun diam (memperhatikannya), kemudian dia mengulang-ulang ayat itu dan berdoa dalam solatnya. Saya kemudian pergi ke pasar, menunaikan keperluan saya dan pulang kembali. Saya temui dia masih mengulang-ulang ayat tersebut dan berdoa.”

Dengan mengulang-ulang ayat yang menyentuh hati akan melipatgandakan potensi keimanan dalam jiwa hamba dan dianjurkan untuk meneruskannya dengan tangisan dan doa.

Allah swt berfirman :

 

“Sesungguhnya orang-orang yang diberikan pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata : Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti penuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS Al-Isra’ : 107-109)

Wasilah-wasilah ini merupakan cara-cara yang praktikal dan tidak sukar untuk dilaksanakan. Yang tinggal hanyalah kemahuan kuat kita untuk sedia berubah di mana kemahuan ini akan mudah kita dapatkan pada diri setiap kita hasil anugerah dari Allah swt.

Oleh kerana itu, kita ungkapkanlah ia dengan doa agar Allah swt memudahkan jalan kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan mengambil manfaat darinya.

Allah swt berfirman :

“Dan Tuhan kamu berkata. Berdoalah padaku niscaya aku kabulkan.” (QS Ghafir : 60)

Setiap kita seharusnya melihat dengan jelas sasaran yang akan dicapai dalam kehidupannya iaitu “al qalbu al hay” (hati yang hidup) yang diceritakan oleh Rasulullah saw akan tanda-tandanya :

“Kerinduan pada kampung keabadian, merasa jauh dengan dunia yang menipu, menyiapkan diri untuk kematian sebelum ia datang.”

Maka teruskanlah untuk membaca Al-Qur’an dengan cara-cara seperti di atas sepanjang umur kita.

Al-Qur’an adalah sebaik-baik pemimpin menuju Allah dalam kehidupan yang dipenuhi oleh fitnah dan syahwat.

Apabila kita menginginkan kebahagiaan pada diri dan keluarga kita, maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan apabila kita menginginkan ‘izzah’(kemuliaan) dan kemenangan untuk umat ini, maka berpegang teguhlah pada Al-Qur’an kerana di dalamnya terdapat segala apa yang kita perlukan untuk merealisasikan perkara itu.

Allah swt berfirman :

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka?” (QS Al-Ankabut : 51)

Di saat kita sudah merasakan indahnya hidup bersama Al-Qur’an, memetik makna-makna yang terdapat di dalamnya dan di saat kita mengecap kemanisan iman, janganlah lupa untuk mendoakan untuk diri kita, keluarga kita serta saudara-saudara kaum muslimin di berbagai penjuru dunia agar memperolehi keampunan, rahmat dan mendapatkan ‘husnul khatimah’ (Kesudahan yang baik).

Ya Allah, permudahkanlah usaha-usaha kami untuk kami jadikan Al Qur’an sebagai panduan dan rujukan dalam kehidupan kami. Bantulah kami supaya kami dapat melaksanakan wasilah-wasilah penting yang akan mengembalikan kami mendapatkan sebesar-besar manfaat dari isi-isi Al-Qur’an serta merubah hidup kami mengikut sistem dan kehendakMu.

Ameen Ya Rabbal Alameen

 

 

 

Sumber : Disini

Silakan balas

Alamat Email Anda tidak akan di publikasikan ke publik Required fields are marked *